If I were a moon
And you were a star
I would stay there
Always by your side
If I were a tree
And you were a bird
I would give you home
For your live
If I were the sky
And you were the earth
I would protect the earth
from disaster
I would protect you
until the end of time . . . . . .
Tuesday, March 27, 2012
When You're Gone
Why you have to go so far away ?
Time still run, and you still run away . .
Can you stop for awhile ?
You know ? We all miss you so . .
Your voice .. Your laugh ..
We all miss everything 'bout you
Can we see you once again ?
Just to see your smile
Still you remember time we had together ?
We all love and miss you . . .
But now.. you're so far away . . . . . . . . . . . . . . .
Time still run, and you still run away . .
Can you stop for awhile ?
You know ? We all miss you so . .
Your voice .. Your laugh ..
We all miss everything 'bout you
Can we see you once again ?
Just to see your smile
Still you remember time we had together ?
We all love and miss you . . .
But now.. you're so far away . . . . . . . . . . . . . . .
Saturday, March 3, 2012
. . Akhir Terindah . .
Hei! ada sebuah cerita niee . . . mampir baca dulu yuk!
Di atas bangku ini ku duduk terdiam memandangi sekelompok anak yang berlari riang sambil melontarkan umpatan canda. Tawa mereka adalah music favorite ku. Senyum mereka adalah satu-satuny pemandngn yang sanggup ku tonton berjam-jam sekarang.
Aku beranjak ke sudut lain kelas ini. Aku berdiri di depan seorang anak perempuan manis yang bertubuh tinggi. ya, dia lah anak manis yang kusayang. Mungkin benar mereka tak bisa melihatku lagi, tapi aku yakin mereka bisa merasakannya. Ku pandangi lagi anak manis itu, manis sekali . . .
Dulu, aku yang selalu tertawa lepas. Selalu jadi yang pertama memulai canda di kelas. Itu dulu, sekarag aku hanya diam tanp mampu bergabung lagi bersama mereka.
Ketika aku di rumah, ku lihat Ibuku menangis. Dalam hati ku mohon Ia tuk berhenti menangis. Karena air matanya akan membuat matanya yang indah bengkak dan tak akan membuatku kembali. Itu hanya akan membuatku sedih. Aku benci tangisan, apalagi itu tangisan orang yang ku sayang.
Itu semua tetap tidak akan bisa membuat ku kembali. Aku justru kan tersiks melihat mereka menangis karena ku. Rasanya seperti ditarik-tarik. Dan, pemandangan yang paling ku benci saat mereka menangis di hari perpisahanku. Yap, hari pemakamanku, aku benar-benar tidak suka melihatnya. Benci sekali.
Aku melakukan ini sudah sejak beberapa hari lalu. Tiap pagi aku juga pergi ke sekolah. Hari ini sahabat-sahabatku bernyanyi bersama diiringi akunan gitar yng dimainkan temanku yang lain. Senang sekali rasanya bisa melihat mereka bahagia.
Aku jai ingat saat dulu aku melakukan hal yang sama bersama mereka. Dulu, akulah yang mengiringi dengan gitar ku. Sebenarnya, aku ini adalah anak laki-laki yang cenderung suka music dibandingkan harus mberadapan dengan angka dan huruf yang 'bertaburan' di buku. Tapi jangan salah ya , aku ini juga termasukpandai loh, hehehe . . .
"Hey soul sister, ain't that mister mister on the radio, stereo the way you move unfair you know . . Hey soul sister, I don't wanna miss a singe thing you do . . tonight"
Saat mereka menyanyikan bagian itu, beberapa merek mulai menagis. Ok, walaupun tidak semua. Beberapa lagi berusaha membendung air mata yang hampir jatuh. Kenangan-kenanganku kembali menyeruak keluar menyelimuti luka yang belum sembuh. Tangisan itu datang. .
Akhir-akhir ini, beberapa guru yanng masuk kelasku pasti menangis . . huuft. Bahkan beberapa guru yang mengajar hanya emberi tugas dan selebihnya bercerita tentang aku. Ternyata banyak ya yang menyayangi ku . . .
Kejadian itu mulai dimuat di beberapa koran. Berbagai spekulasi mulai bermunculan. Kecelakaan yang merenggut nyawaku memang sangat tragis. Tapi, aku tak ingn membicarakannya terlalu dalam, sudah cukup. Sekejab aku terkenal.
Kembali ku tengok ke kelas. . Ada banyak orang di sana, hanya saja atmosfer kami yang berbeda. Kelas ini jadi lebih sepi. . Kami masih duduk di bangku 3 SMP, tawa, gurauan, umpatan yang tak pernah kami tujukan dengan serius, music dari petikan gitar dan segalanya masih ku ingat degan jelas dan akan selalu begitu.
Saat mereka ingat dan merindukanku, semua kenangan ku kembali menyeruak keluar menyapu bersih hal yang seharusna mereka fokuskan dan membuat benak mereka dipenuhi kenangan-kenangan miris itu.
Terkdng aku juga bingung, mengapa perpisahan hars ada dan ditemani sebuah tangisan . . mengapa? Jika saja aku punya mesin waktu, aku ingin mengulang semuanya. Aku ingin jadi anak SMA, ingin melihat ketiga adikku berkembanng, ingin merayakan ulang tahunku, masih banyak yang ku inginkan . . Tapi, tkdirku berkata lain . .
Menurut mereka, akku pergi terlalu cepat. Mereka bilang, kalau mereka kangen mereka bisa cari aku di mana? Siapa lagi yang usil dan jahil di kelas? Mereka ingin aku kembali.
Tapi aku salut terhadap mereka. Mereka-merek yang merindukanku adalah orang-orang hebat. Mereka hebat karen mereka tersenum di saat mereka punya hak untuk menangis. Mereka hebat karena mereka saling meyakinkan bahwa kepergianku tak boleh ditangisi terus-menerus. Bagaimana pun hidup mereka harus tetap berlanjut dengan atau tanpa aku.
Keluarg, teman, guru . . Semuanya masih merasa ini mimpi. Tapi, inilah kenyataan.. Terkadang keluarga dan temanku suka memanggil namaku berulang kali. Seakan aku berada di samping mereka.
Aku ingat beberapa hari lalu, anak manis yang ku sayang itu memanggil-manggil namaku. Igin sekali rasanya aku datang dan menghapus segala dukanya. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Ingin ku hapus semua duka orang-orang yang menyayangiku. Ingin . . . . .
Mereka menyayagiku dan aku juga. Persahabatan ini akan abadi. Aku akan mengingat persahabatan ini sampai kapan pun. Dan saat aku benar-benar pergi, semua kenangan itu akan ku bawa. Ku bawa ke sana, ke tempat terindah yang belum pernah aku kunjungi.
Aku ingin sema orang meningatku tanpa harus menitihkan air mata. Mengingatkanku tanpa rasa sedih. Mengingatku dengan bahagia. Aku benci tangisan. Aku benci kesedihan.
Selama ini mereka sedang berduka dan aku tahu itu.Uniknya, saat mereka butuh tempa untuk menangis atau sekedar mengungkapkannya, mereka selalu ada untuk sau sama lain. Mungin mereka tidak saling berpelukkan, tapi dengan tepukan di pundak atau dengan kata-kata 'ayo.. jangan sedih dong. Ayo senyum!' .
Muncul keyakinan bahwa mereka semua sudah siap. Keluargaku, sahabatku, dan yang lainnya. Kelegam itu muncul dan semunya menjadi lebih baik. Semuanya jadi lebih jernih dan menyenangkan.
Kini, aku mulai melihat orang-orang di sekitarku dengan cara mereka yang baru. Cara yag membuatku yakin bahwa selama ini aku tidak membuang waktu yang ku punya.Cara yang membuatku yakin bahwa segla sesuatu yang terjadi di dunia ini punya sebab. Cara yang meyakinkan aku bahwa selama ini aku punya hadiah terindah yag belum tentu setiap orang memilikinya. Semua begitu indah ketika kau melihat dunia penuh dengan kedamaian.
Aku tidak akan memberi tahu siapa aku sebenarnya. Siapa namaku. Namun yang pasti aku pernah menjadi bagian dari kelas ini bersama mereka, tema-temanku yang hebat. Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka, tidak akan . . . Mereka memang tidak bisa melihatku lagi, tapi, persahabat kami tak akan terhenti karena tempat dan dimesi yang berbeda bukan?
Persahabatan kami adalah sesuatu yang menembus. Menembus layaknya sinar mentari. Menembus tempat, waktu, bahkan dimensi. Itu semua bukanlah penghalang persahabatan kami. Apapun itu, kami tetap sahabat selamanya.
Rasanya, mereka akan baik-baik aja. Aku bisa pergi sekarang. Mereka sudah benar-benar mengikhlaskan aku. Keluarga, Sahabat, semua . . Lalu, aku pergi bersama angin dalam kedamaian abadi (:
Nah, ini cerpen pertama yang aku post . .
Gimana menurut kalian para pembaca? :D
Subscribe to:
Posts (Atom)